Wanprestasi (Cidera Janji) serta Permintaan Ganti Kerugian

doktorhukum.com – Menurut kamus hukum, istilah  “wanprestasi” dapat diartikan sebagai “kelalaian, kealpaan, cidera janji dan tidak menepati kewajibannya dalam kontrak.” Dari pengertian tersebut disimpulkan bahwa wanprestasi adalah suatu keadaan dimana seorang debitur (pihak berhutang) tidak melaksanakan prestasi yang diwajibkannya dalam suatu perjanjian/kontrak, yang dapat timbul karena kesengajaan atau kelalaian dari debitor (pihak berhutang) itu sendiri dan adanya keadaan memaksa (overmacht) yang membuat debitor (pihak berhutang) tidak dapat melaksanakan kewajiban prestasinya.

Apabila mengacu pada hukum yang beraku, maka pengaturan terkait wanprestasi tersebut dapat dilihat dalam Pasal 1243 KUHPerdata yang menyebutkan :

“Penggantian biaya, rugi, bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan, barulah dimuali diwajibkan apabila debitor (pihak berhutang) setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya dalam tenggang waktu tertentu telah dilampauinya.”

Dari uraian Pasal 1234 KUHPerdata tersebut diatas, disimpulkan bahwa salah satu syarat dikatakan debitor (pihak berhutang) wanprestasi adalah ketika “lalai memenuhi perikatannya”. Artinya usur lalai (in mora stelling, ingebreke stelling) merupakan syarat utama untuk menyatakan pihak debitur (pihak berhutang) lalai dalam melaksanakan perjanjian/kontrak-nya.

Dalam prakteknya, mudah untuk menentukan pihak debitur (pihak berhutang) telah melalukan perbuatan wanprestasi, sebab dari aspek teorinya, terdapat 4 (empat) jenis wanprestasi (cidera janji), yaitu:

  1. Tidak melaksanakan prestasi sama sekali. Artinya, debitor benar-benar tidak melaksanakan kewajiban presitasinya dalam perjanjian/kontrak. Sebagai contoh, Debitor A memiliki hutang (pinjaman) sebesar Rp. 500 juta kepada Kreditur B yang dituangkan dalam sebuah perjanjian/kontrak. Di dalam perjanjian/kontrak tersebut, Debitur A berjanji akan melunasi hutang (pinjamannya) dalam kurung waktu 1 (satu) bulan secara keseluruhan. Namun ternyata, setelah 1 (satu) bulan berlalu, Debitur A tidak melaksanakan kewajiban prestasinya kepada Krditur B, sehingga Debitur A dapat dinyatakan telah “wanprestasi (cidera janji).
  2. Melaksanakan prestasi, tetapi tidak sebagaimana mestinya. Artinya, debitur melaksanakan kewajiban prestasinya namun tidak sesuai dengan apa yang tertuang di dalam perjanjian/kontrak. Sebagai contoh, Debitur A memiliki hutang (pinjaman) sebesar Rp. 300 Juta kepada Kreditur B yang dituangkan dalam sebuah perjanjian/kontrak. Di dalam perjanjian/kontrak disebutkan jika Debutur A akan melunasi hutangnya dalam waktu 3 (tiga) bulan dengan 3 (tiga) tahap yaitu setiap bulannya sebesar Rp. 100 juta. Namun ternyata, pada pelunasan bulan ke-1 (pertama), Debitur A hanya mampu melunasi sebesar Rp. 50 Juta. Bahwa dikarenakan Debitur A hanya mampu melunasi Rp. 50 Juta, padahal memiliki kewajiban prestasi untuk melunasi setiap bulannya sebesar Rp. 100 Juta, maka Debitur A dapat dinyatakan “wanprestasi (cidera janji)”.
  3. Melaksanakan prestasi, tetapi tidak tepat pada waktunya. Artinya, debitur tetap kewajiban melaksanakan prestasinya namun tidak sesuai dengan jangka waktunya. Sebagai contoh, Debitur A memiliki hutang (pinjaman) sebesar Rp. 200 Juta kepada Kreditur B yang dituangkan dalam sebuah perjanjian/kontrak. Di dalam perjanjian/kontrak disebutkan jika Debitur A akan melunasi hutanya sebesar Rp. 200 Juta tersebut pada tanggal 15 April 2019. Namun ternyata dalam kenyataannya, Debitur A baru dapat melunasi hutanya kepada Kreditur B sebesar Rp. 200 Juta tersebut pada tanggal 20 April 2019. Akibat hal tersebut, maka Debitur A tetap dapat dinyatakan “wanprestasi (cidera janji)”, sebab bisa jadi Kreditur B lagi membutuhkan dana tersebut untuk keperluan lain pada tanggal dimana Debitur A harus melunasi hutangnya, sehingga Debitur A tetap dapat dinyatakan wanrestasi (cidera janji).
  4. Melaksanakan perbuatan yang dilarang dalam perjanjian/kontrak. Artinya, apabila di dalam sebuah perjanjian/kontrak yang dibuat terdapat sebuah larangan yang mengharuskan para pihak (debitur dan kreditur) untuk tidak melakukan suatu perbuatan, namun ternyata salah satu pihak tetap melaksanakan larangan tersebut, maka pihak yang melaksanakan larangan tersebut dapat dinyatakan telah melakukan wanprestasi (cidera janji). Sebagai contoh, di dalam perjanjian/kontrak yang dibuat antara Debitur dan Kreditur disepakati bahwa Kreditur (pihak berpiutang) dilarang mengalihkan hutangnya kepada pihak ke-3 (tiga) tanpa persetujuan dari Debitur. Namun ternyata yang terjadi adalah Kreditur tetap mengalihkan hutangnya kepada pihak ke-3 (tiga) tanpa persetujuan Debitur. Perbuatan yang dilakukan kreditur tersebut walapun sebagai pihak yang memiliki piutang tetap dapat dikategorikan sebagai perbuatan wanprestasi (cidera janji) kepada Debitur, sebab melakukan perbuatan yang dilarang dalam perjanjian/kontrak yang telah disepakati.

Debitur (pihak berhutang)  yang dinyatakan wanprestasi (cidera janji) memiliki kewajiban untuk membayar ganti kerugikan kepada Kreditur (pihak berpiutang). Dalam hukum perdata, ganti kerugian (schade) diartikan kerugian nyata (feitelijkschde) yang dapat diduga dan diperkirakan oleh para pihak pada saat mereka membuat perjanjian/kontrak, yang timbul sebagai akibat dari wanprestasi.  Jumlah ganti kerugian itu ditentukan berdasarkan perbandingan antara keadaan harta kekayaan setelah terjadinya wanprestasi dengan keadaan harta kekayaan seandainya tidak wanprestasi.

Apabila mengacu pada Pasal 1246 KUHPerdata, ganti kerugian akibat perbuatan wanprestasi (cidera janji) dijelaskan sebagai berikut :

Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.”

Dari uraian Pasal 1246 KUHPerdata tersebut disimpulkan bahwa terdapat 3 (tiga) jenis ganti kerugian yang dapat dituntut oleh Kreditur kepada Debitur yang dinyatakan wanprestasi (cidera janji), yaitu:

  1. Biaya (konsen) yaitu segala pengeluaran atau ongkos yang telah nyata-nyata dikeluarkan. Contohnya, biaya yang telah diberikan oleh Kreditur kepada Debitur dalam bentuk pinjaman. Selain itu, dapat berupa biaya yang dikeluarkan Kreditur untuk membiayai administrasi jasa pembuatan perjanjian/kontrak yang dilakukan di kantor notaris atau di kantor pengacara;
  2. Rugi (schaden), yaitu kerugian karena kerusakan barang-barang milik kreditur disebabkan oleh kelalaian debitur atau pihak mempunyai kewajiban melaksanakan prestasi dalam kontrak. Contohnya, Debitur meminjamkan sebuah mobil kepada Kreditur, namun ternyata mobil yang di Debitur tersebut rusak, sehingga akibat hal tersebut Debitur memiliki kewajiban untuk mengganti seluruh kerusakan mobil dari Kreditur. Selain itu, rugi (chaden) juga dapat diartikan sebagai kerugian immaterial yang dialami pihak Kreditur akibat perbuatan Debitur tidak melunasi hutangnya dalam jangka waktu ditentukan, padahal Kreditur membutuhkan dana tersebut untuk membuat usaha baru, sehingga akibat perbuatan Debitur tersebut, Kreditur mengalami kerugian secara immateril. Namun, apabila telah sampai ke pengadilan, Kreditur wajib membuktikan kerugian immaterial tersebut;
  3. Bunga (interessen), yakni keuntungan yang harus diperoleh Kreditur dari Debitur yang lalai melaksanakan prestasi yang dijanjikan dalam kontrak tersebut. Contohnya, apabila pihak Debitur lalai melaksanakan prestasi, maka Kreditur dapat meminta bunga atau keuntungan lebih diluar dari prestasi (pinjaman) yang harus dikembalikan oleh Debitur. Dalam praktek terdapat jenis bunga yang diperjanjian, artinya dari awal para pihak telah sepakat terkait dengan adanya pengenaan bunga terhadap pihak-pihak yang lalai dalam melaksanakan isi perjanjian/kontrak, dan terdapat juga bunga yang telah ditetapkan undang-undang serta bunga yang ditentukan pengadilan sebagai akibat adanya gugatan Kreditur.  

 

Penulis :

R. Indra

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait