Mengenal Istilah Voeging, Tussenkomst dan Vrijwaring

doktorhukum.com – Dalam proses pemeriksaan sengketa perdata di pengadilan terkadang kita melihat hanya terdapat 2 (dua) pihak yang berperkara yaitu pihak penggugat yaitu sebagai pihak yang merasa dirugikan  dan pihak tergugat sebagai pihak yang dituduh merugikan pihak penggugat. Namun, terkadang juga kita melihat terdapat pihak turut tergugat sebagai pihak yang diikutsertakan pihak penggugat dalam gugatannya.

Selain pihak-pihak tersebut yang disebutkan diatas, ternyata dalam suatu gugatan perdata di pengadilan dimungkinkannya lagi pihak lain masuk dalam suatu gugatan tanpa harus terlebih dahulu disebutkan dalam gugatan oleh penggugat. Pihak yang dimaksud adalah pihak intervensi. Pihak intervensi ini merupakan pihak yang tidak masuk dalam gugatan, namun dapat ikut serta dalam suatu gugatan yang diajukan penggugat dikarenakan inisiatif sendiri atau ditarik oleh salah satu pihak dalam gugatan.

Pada dasarnya pengaturan pihak intervensi ini tidak diatur dalam HIR atau RBg, namun diatur dalam  Reglement Recht Vordering (Rv).

Menurut Rv, terdapat 3 (dua) jenis pihak intervensi dalam  suatu gugatan perdata, yaitu :

  1. Voeging, yaitu ikut sertanya pihak ketiga dalam suatu perkara perdata atas dasar inisiatif sendiri untuk membela salah satu kepentingan pihak penggugat atau pihak tergugat.
  2. Tussenkomst, yaitu ikut sentarnya pihak ketiga dalam suatu perkara perata atas dasar inisiatif sendiri, tetapi tidak memihak atau membela salah satu pihak baik itu dari penggugat maupun tertugat, namun untuk membela kepentingannya sendiri. Dalam banyak perkara perdata, masuknya pihak ketiga dengan model tussenkomst ini paling sering terutama perkara yang berkaitan dengan sengketa hak kepemilikan tanah yang dimana pihak yang tidak masuk dalam gugatan tiba-tiba hadir mengajukan diri sebagai pihak intervensi dikarenakan juga berhak atas tanah yang disengketakan antara pihak penggugat dan tergugat.
  3. Vrijwaring, yaitu ikut sertanya pihak ketiga dalam pemeriksaan perkara perdata karena ditarik oleh salah satu pihak untuk ikut menanggungnya. Biasanya penarikan dilakukan untuk membebaskan tergugat dari beban penanggungan ganti kerugikan. Banyak yang mengatakan bahwa masuknya pihak ketiga dengan model vrijwaring ini tidak dapat dikatakan sebagai pihak intervensi, sebab pihak ketiganya masuk bukan atas dasar inisiatif sendiri, namun dikarenakan adanya pihak dalam gugatan yang menariknya. Sebagai contoh, A membeli sebuah handpone bermerek Samsung ditoko milik B. Setelah handpone tersebut dipakai A, ternyata handpone-nya rusak. Akhirnya si A mengajukan gugatan perdata ke B untuk meminta ganti kerugian. Namun, sebelum persidangan dimulai untuk membacakan gugatan, B mengajukan permohonan kepada hakim untuk memasukkan C sebagai pihak dalam perkara ini, sebab B membeli handpone tersebut dari C. oleh karena itu, B meminta yang bertanggungjawab mengganti handpone A adalah C.

 

Penulis :

R. Indra

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait