Kampanyekan Peradi Bersatu, Gempi Mulai Roadshow Ke Daerah

doktorhukum.com – Kumpulan advokat muda yang mendeklarasikan dirinya dengan nama Gerakan Pemuda Peradi (GEMPI) di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat tersebut mulai mengambil langkah konkrit untuk kembali menyatukan 3 kubu Peradi yang dinilainya pecah.

Sebagaimana wawancara yang kami lakukan  tim doktorhukum.com pada 9 November 2019 dengan Presiden Gempi, Mario Palayukan mengemukakan bahwa langkah konkrit yang pertama ia wujudkan dalam waktu dekat setelah terbentuknya Gempi adalah membuat Roadshow ke daerah-daerah dengan membuat dialog interaktif terkait Peradi Guyub Rukun Kembali.  Adapun pilihan kota yang pertama dikunjungi Gempi adalah Medan.

“Kami akan mengadakan Roadshow, diskusi dan dialog interaktif bertemakan dialog Peradi Guyub Rukun Kembali dan untuk kali pertama akan diadakan di Kota Medan.” Ujar Mario

Akhirnya, Senin, 2 Desember 2019, Gempi mulai Rodashownya ke Kota Medan dengan membuat FGD dengan tema “PERADI, Guyub & Rukun Kembali” yang betempat di Aston City Hall Hotel, Medan.

Dalam FGD tersebut, Gempi mengundang para tokoh advokat Peradi yang dapat dinilai dari 3 kubu perpecahan Peradi, yaitu:

  1. Kubu Fauzi Hasibuan yang dihadiri oleh Charles J.N. Silalahi, SH, MH.
  2. Kubu Juniver Girsang yang dihadiri oleh Dr. Japansen Sinaga, SH, M.Hum.
  3. Kubu Luhut MP. Pangaribuan yang dihadiri oleh Banuara Sianipar, SH, MH, CPHR.

Ketiganya didudukkan bersama 2 tokoh Peradi lainnya, yaitu Yudi Wibhisana, SH dan A. Bona P. Sitanggang sebagai narasumber dengan moderator oleh Recci Murinanda, SH, MH.

Diberitakan oleh starberita.com (3/12/2019), bahwa Recci pun bertanya kepada seluruh narasumber yang hadir tentang bagaimana cara menyatukan Peradi.

Charles J. N. Silalahi mengatakan bahwa kesalahan awal terbesar dengan terbentuknya Peradi adalah dengan tidak dibubarkannya 8 Oganisasi advokat lainnya yang ada di Indonesia.

“Inilah kesalahan terbesar saat terbentuknya Peradi. Kenapa saya katakan demikian, karena ketika organisasi kita lebih tinggi dari organsiasi orang lain, tanpa kita sadari kita telah memijak mereka. Akibatnya, mereka pun berdoa agar organisasi kita ini pecah bahkan mungkin hancur.”

Lebih lanjut Charles juga mengemukakan bahwa hingga saat ini advokat di Indonesia tidak memiliki kiblat sebagai patokannya. Misalnya seperti kejaksaan yang berkiblat pada Gedung Bundar Kejagung, atau Kepolisian yang berkiblat pada Mabes Polri.

“Tapi para advokat ini, apa ada kiblat kita ? tidak. Sebab cuma officium nobile yang menjadi patokan kita. Namun ini tidak bisa menjadi arah kiblat kita. Karena dalam menjalankan profesi kita ini, kita bertujuan untuk menegakkan hukum dan keadilan dalam kehidupan masyarakat,” Jelasnya seraya mengatakan bahwa dirinya berkeinginan agar bisa mendirikan Gedung Peradi Nasional yang disebut “Oktagon Building” sebagai kiblat dari para advokat yang ada di Indonesia.” Lanjutnya.

Untuk itu, Charles pun berharap agar para anggota muda yang ada di Peradi, Khususnya di Gempi agar dapat menjaga Peradi kedepannya.

“Saya pesankan kepada yang muda, jika kedepan kalian punya pengaruh dalam profesi ini, tolong besarkan organisasi kita ini. Tetapi kalau kalian tidak bisa membesarkannya, tolong jangan hancurkan organisasi ini, sebab jika organsiasi ini hancur, maka hancurlah kita semua. Karena organisasi ini yang telah membesarkan kita semua.” Tegasnya.

Kemudian, Japansen Sinaga menambahkan, dari 8 organisasi advokat yang ada sebelum Peradi terbentuk, semuanya menginginkan satu organisasi yang sifatnya adalah single bar (satu kesatuan) dari seluruh organisasi yang ada. Sehingga dengan demikian, ketika ditanya bagaimana cara untuk menyatukan Peradi saat ini jawabannya ialah harus ada kelegowoan dari semua pihak.

“Bukan suatu hal yang yang tidak mungkin untuk menyatukan Peradi ini. Namun, untuk bisa Peradi ini kembali bersatu seperti sediakala, maka kita semua dan dari pihak manapun harus bisa sama-sama legowo.” Sebutnya.

Sedangkan, Banuara Sianipar mengatakan untuk bisa menyatukan kembali Peradi hanya dapat dilakukan dengan melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) bersama, sehingga dari Munas yang dilaksanakan memiliki satu suara bersama dan menghasilkan rekonsiliasi Peradi.

“Dengan adanya rekonsiliasi ini, maka yang menjadi dasar untuk bersatunya Peradi ini. Karena rekonsiliasi ini merupakan hasil dari Munas yang dilakukan bersama.” Singkatnya, Banuara seraya menegaskan bahwa dirinya juga bersedia mundur sebagai Ketua Peradi Luhut apabila hal tersebut menjadi syarat bersatunya kembali Peradi.

Dari Rangkuman FGD yang dilakukan, Recci Murinanda mengatakan bahwa semua anggota Peradi dari kubu manapun menginginkan agar Peradi dapat kembali bersatu seperti sedia kala saat terbentuknya. Dimana keinginan tersebut bertujuan membesarkan organisasi yang memiliki satu visi dan tujuan tanpa ada kubu-kubu di tubuh Peradi.

“Kesimpulan yang dapat saya rangkum ialah, kita semua menginginkan agar kedepan Peradi ini bisa kembali bersatu.” Jalas Recci.

Usai pelaksanaan FGD, Presiden Gempi, Mario Palayukan yang ditemui mengatakan bahwa Medan menjadi tempat awal Gempi menyatukan Peradi.

“Kegiatan ini menjadi langkah awal kita untuk menyatukan kembali Peradi. Dan semoga kedepan Peradi benar-benar bisa bersatu kembali.” Ungkap harapan Mario.

Dalam FDG ini, turut hadir Koordinator Wilayah Gempi Sumatera Utara (Sumut), Satria Braja Hariandja, serta para anggota Peradi lainnya yang berasal dari kubu masing-masing yang ada.

 

Sumber: Starberita.com

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait