Jumlah Modal Yang Disiapkan Dalam Membentuk Perseroan Terbatas (PT)

Doktorhukum.com – Sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai berapa jumlah modal yang perlu disiapkan dalam membentuk badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas (PT), maka terlebih dahulu perlu diketahui jenis-jenis modal dalam sebuah PT.

Dalam sebuah PT, terdapat istilah “modal”. Modal dapat diartikan sebagai kemampuan sebuah PT  untuk membiayai kegiatan usahanya. Semakin banyak modal dalam sebuah PT, maka semakin mudah PT tersebut akan berkembang, sebab modal yang dimilikinya dapat digunakan untuk melakukan pengembangan kegiatan usaha.

Selain itu, dengan mengetahui jumlah modal dalam sebuah PT, maka akan mudah menentukan jumlah saham yang dimiliki setiap pemegang sham di dalam PT tersebut.

Apabila mengacu pada UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT), maka modal dapat dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:

  1. Modal Dasar,
  2. Modal Ditempatkan, dan
  3. Modal Disetor.

Terhadap ke-3 (tiga) istilah tersebut tidak disebutkan definisinya secara eksplisit dalam UU PT, sehingga banyak pihak yang memberikan pengertian yang berbeda-beda terhadap jenis-jenis modal tersebut diatas. Namun, tetap memiliki makna yang sama. Oleh karena itu, penulis mempunyai pengertian tersendiri terhadap pengertian jenis-jenis modal tersebut diatas dengan tetap mengacu pada UU PT, yaitu sebagai berikut :

  1. Modal Dasar, yaitu suatu modal yang tidak nyata (tidak riil), artinya bukan modal yang digunakan untuk melakukan kegiatan usaha secara rill, namun tercatat jumlahnya dalam sebuah Akta Pendirian. Apabila PT ingin menggunakan modal dasar untuk melakukan kegiatan usaha, maka terlebih dahulu wajib diubah menjadi modal ditempatkan dan disetor.

Dalam Pasal 32 ayat (1) UU PT disebutkan Modal Dasar PT paling sedikit Rp. 50.000.000,00,- (Lima Puluh Juta Rupiah).  

  1. Modal Ditempatkan dan Disetor, yaitu modal yang nyata (riil), artinya modal yang digunakan secara rill untuk melakukan kegiatan usaha dalam sebuah PT. Modal inilah yang menentukan apakah sebuah PT tersebut akan berkembang atau tidak setiap tahunnya. Selain itu, menentukan kemampuan pemengang saham untuk menempatkan modalnya dalam melakukan kegiatan usaha.

Penulis tidak membedakan antara modal ditempatkan dan disetor, sebab  Pasal 33 ayat (1) menyebutkan istilah “ditempatkan” dan “disetor penuh” secara bersamaan, sehingga modal yang ditempatkan dan disetor penuh jumlahnya sama dan merupakan modal rill yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan usaha.

Dalam Pasal 33 disebutkan :

    1. Paling sedikit 25 % (dua puluh lima persen) dan modal dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 harus ditempatkan dan disetor penuh;
    2. Modal ditempatkan dan disetor penuh sebagaimana dimaksud ayat (1) dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah;
    3. Pengeluaran saham lebih lanjut yang dilakukan setiap kali untuk menambah modal yang ditempatkan harus disetor penuh.

Dari pengeritan diatas, maka modal ditempatkan dan disetor adalah 25 % (dua puluh lima persen) dari modal dasar. Artinya, apabila modal dasar yang tertuang dalam Akta Pendirian adalah Rp. 50.000.000, 00,- (Lima Puluh Juta Rupiah), maka modal yang akan ditempatkan dan disetor paling sedikit Rp. 12.500.000,00,- (Dua Belas Juta Lima Ratus Rupiah).

Selain itu, modal ditempatkan dan disetor nantinya yang akan menentukan jumlah saham dari para pemegang saham nantinya.

 

Penulis :

R. Indra

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait