Alasan Yang Harus Dipenuhi Untuk Bercerai di Pengadilan

doktorhukum.com – Indonesia merupakan negara yang tidak memudahkan warganya untuk dapat bercerai setelah melangsungkan perkawinan secara hukum. Hal tersebut wajar, mengingat perkawinan di Indonesia diartikan sebagai perbuatan yang sakral dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Akan tetapi, dikarenakan bercerai adalah hak setiap orang (pasangan) yang tidak dapat lagi mempertahankan rumah tangganya, maka negara tetap memberikan kesempatan bagi orang (pasangan) yang ingin melakukan perceraian sepanjang memenuhi alasan-alasan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pengajuannya diajukan ke pengadilan.

Apabila yang bercerai adalah orang (pasangan) yang ber-agama Islam maka pengajuan gugatannya di Pengadilan Agama. Sedangkan orang (pasangan) yang ber-agama selain Islam, maka pengajuan gugatannya diajukan ke Pengadilan Umum.

Padal dasarnya UU No. 1 Tahun 1974 tidak mengatur mengenai alasan-alasan yang harus dipenuhi untuk orang (pasangan) yang ingin bercerai, hal itu disebabkan pengaturannya diatur dalam PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pasal 19 PP No. 9 Tahun 1975 menyebutan secara umum terdapat 6 (enam) alasan yang harus dipenuhi oleh orang (pasangan) yang ingin bercerai di Pengadilan, yaitu:

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
  6. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Sedangkan untuk beragama Islam, berdasarkan Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam (KHI) terdapat 2 (dua) alasan tambahan selain yang diatur dalam Pasal 19 PP No. 9 Tahun 1975 untuk orang (pasangan) yang ingin bercerai di Pengadilan, yaitu :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri;
  6. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
  7. Suami melanggar taklik talak;
  8. Peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Alasan-alasan perceraian diatas bersifat alternatif. Artinya, apabila terdapat orang (pasangan) yang mengajukan permohonan/gugatan perceraian di Pengadilan, maka cukup memilih salah satu alasan perceraian yang disebutkan diatas, namun tidak dibatasi apabila ingin mengajukan lebih dari 1 (satu) alasan perceraian.

Alasan-alasan perceraian yang disebutkan dalam gugatan tersebut pada dasarnya wajib dibuktikan oleh pihak yang mengajukan permohonan/gugatan perceraian di pengadilan. Apabila hal tersebut tidak dapat dibuktikan, maka pengadilan dapat menyatakan perceraian tidak dapat diterima atau ditolak, sehingga perkawinannya tersebut masih dianggap sah menurut hukum.

Editor : R. Indra

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait