Subrogasi, Cessie dan Novasi dalam Hukum Perjanjian/Kontrak

doktorhukum.com – Dalam hukum perjanjian dikenal jenis-jenis cara berakhirnya atau hapusnya perjanjian/kontrak, yang salah satunya disebabkan adanya subrogasi cessie dan novasi. Masih banyak pihak yang belum paham terkait istilah-istilah tersebut. Oleh karena itu, penulis dibawah ini akan menguraikan pengertian dari subrogasi, novasi dan cessie yaitu sebagai berikut :

 

SUBROGASI

Subrogasi adalah terjadinya pergantian Kreditur lama kepada Kreditur baru. Sebagai contoh, Debitur A melakukan perjanjian utang piutang dengan Kreditur B. dikarenakan Kreditur B sangat membutuhkan dana dari pinjaman uang yang dilakukan oleh Debitur A, maka terdapat 2 (dua) kemungkinan agar dana pinjaman Kreditur B tersebut kembali, yaitu pertama, Kreditur B mencari Kreditur C (sebaga kreditur baru) untuk menggantikan posisinya sebagai kreditur. Artinya, Kreditur B mengalihkan piutangnya dengan cara meminta kepada Kreditur C untuk melunasi hutang dari Debitur A, sehingga nantinya yang memiliki hubungan utang piutang adalah Debitur A dan Kreditur C. Kedua, Debitur A mencari Kreditur C (sebagai kreditur baru) untuk melunasi hutangnya kepada Kreditur B. Artinya, apabila Kreditur C melunasi hutang Debitur A, maka yang nanti mempunyai hubungan hukum tinggal Debitur A dan Kreditur C.  Dalam KUHPerdata, pengaturan terkait Subrogasi diatur dalam Pasal 1400 dan Pasal 1401 KUHPerdata.

 

CESSIE

Cessie adalah suatu pengalihan piutang atas nama yang diatur dalam Pasal 613 KUHPerdata. Pengalihan ini terjadi atas dasar suatu peristiwa perdata, seperti jual-beli antara Kreditur lama dan calon Kreditur Baru. Pada dasarnya, dalam cessie utang piutang tidak hapus, hanya beralih kepada pihak ketiga sebagai kreditur baru. Sedangkan dalam subrogasi, utang piutang yang lama hapus biarpun satu detik, untuk kemudian dihidupkan lagi bagi kepentingan kreditur baru. Pada hakikatnya, Novasi ini merupakan hasil perundingan segitiga, sedangkan dalam subrogasi, dimana pihak ketiga membayar kepada kreditur, debitur adalah pihak yang pasif, dia hanya diberitahukan tentang adanya pergantian kreditur, sehingga harus membayr kepada kreditur baru.

Untuk membedakan antara Cessie dan Subrogasi adalah sebagai berikut :

  1. Cessie selalu terjadi karena perjanjian, sedangkan subrogasi dapat terjadi karena undang-undang maupun karena perjanjian;
  2. Bagi Cessie selalu diperlukan suatu akta, sedangkan dalam subrogasi hal ini tidak mutlak, kecuali bagi subrogasi yang lahir dari perjanjian di mana debitur menerima uang dari pihak ketiga untuk membayar hutangnya kepada kreditur;
  3. Dalam cessie peran kreditur mutlak diperlukan, sedangkan dalam subrogasi yang terjadi karena undang-undang, hal ini tidak diperlukan;
  4. Subrogasi terjadi sebagai akibat pembayaran, sedangkan cessie dapat didasarkan atas berbagai peristiwa perdata, misalnya jual-beli atau utang piutang;
  5. Cessie hanya berlaku kepada debitur setelah adanya pemberitahuan, sedangkan dalam subrogasi meskipun pemberitahuan diperlukan tetapi bukan merupakan syarat bagi berlakunya subrogasi.

 

NOVASI

Novasi adalah pembaruhan hutang yang diatur dalam Pasal 1413 KUHPerdata yaitu suatu perikatan yang bersumber dari kontrak baru yang mengakhiri atau menghapuskan perikatan yang bersumber dari kontrak lama dan pada saat bersamaan menimbulkan perikatan baru yang bersumber dari kontrak baru yang menggantikan perikatan yang bersumber dari kontrak lama tersebut.

Apabila dibandingkan dengan subrogasi, maka dalam subrogasi perikatan antara kreditur lama dan debitur hapus karena pembayaran dan kemudian perikatan tersebut baru hidup lagi antara pihak ketiga (kreditur baru) dengan debitur. Posisi kreditur baru menggantikan posisi kreditur lama. Sedangkan dalam novasi pihak kreditur dan debitur memang telah bersepakat untuk menghapuskan perikatan lama dan menggantinya dengan perikatan baru.

Dalam Pasal 1413 KUHPerdata membagi 3 (tiga) jenis novasi, yaitu sebagai berikut :

  1. Apabila seorang debitur membuat perikatan utang baru bagi kreditur untuk menggantikan perikatan yang lama yang dihapuskan karenanya. Hal inilah yang disebut novasi objektif;
  2. Apabila seorang debitur baru ditunjuk untuk menggantikan seorang debitur lama yang dibebaskan dari perikatannya. Hal ini disebut novasi subjektif pasif;
  3. Apabila sebagai akibat suatu perjanjian baru, ditunjuk seorang kreditur baru, untuk menggantikan kreditur lama terhadap siapa si debitur dibebaskan dari perikatannya. Hal ini disebut novasi subjektif aktif.

 

Penulis :

R. Indra

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *